Wajib Tabayyun dalam setiap menerima informasi (QS.Al-Hujurat ayat 6)
Pengertian Tabayyun
Berbicara tentang tabayun pasti masih terdengar asing dikalangan umum. Untuk mengetahui makna Tabayun diperlukan beberapa arti yang mampu memberikan gambaran atau maksud dari tabayun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tabayun berarti penjelasan atau pemahaman. Dalam bahasa Arab, Tabayyun (تبيّن)berasal dari kataبان(jelas) yang mengikuti wazanتفعّلdantabayyun merupakan masdhar dari tabayyanayang mempunyai faidahللتكليف(membebani)sehingga Tabayyun (تبيّن)berarti menjelaskan. Jadi tabayyun dalam setiap informasi berarti menjelaskan kebenaran dari informasi yang didapat dengan cara memverifikasi kebenaran informasi tersebut.Makna tabayyun yang terkandung dalam QS. Al Hujurat ayat 6Sebelum mengetahui makna tabayyun yang terkandung dalam QS. Al Hujurat ayat 6, alangkah baiknya apabila kita mengetahui ayat dan terjemahQS. Al Hujurat ayat 6. Berikut adalah terjemah QS. Al Hujurat ayat 6:6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa kita diperintahkan untuk melalakukan tabayyun. Kataفتبيّنواmerupakan fiil amar dariتبيّنyang berarti suatu perintah yang harus dikerjakan.Dengan melakukan tabayun diharapkan agar kita dijauhkan dari adu domba atupun fitnah. Karena dengan bertabayun kita menjadi tidak mudah menerima informasi atau berita yang palsu.Dalam ayat ini Allah memperingatkan orang-orang mukmin agar berhati-hati, jika seorang fasik datang membawa berita janganlah cepat mempercayainya, tetapi hendaklah diselidiki kebenarannya supaya tidak ada pihak atau kaum yang dirugikan, ditimpa musibah atau bencana yang disebabkan berita yang belum pasti kebenarannya, sehingga menyebabkan penyesalan yang semestinya terjadi.Namun dengan bersikap tabayyun bukan berarti kita syu’udzon terhadap sesama muslim. Dengan bertabayyun kita harus menjadi seorang muslim yang lebih berhati-hati apabila menerima berita atau informasi yang penting. Ketika berita atau informasi telah disampaikan alangkah baiknya apabila kita memverifikasikebenaran berita tersebut melalui beberapa orang yang sekiranya dapat dipercaya dan dapat mempertanggungjawabkan apa yang dikatakannya.Asbabun NuzulDalam suatu riwayat di kemukakan bahwa Al- Harits menghadap Rasulullah saw. Beliau mengajaknya untuk masuk Islam. Ia pun berikrar menyatakan diri untukmasuk Islam. Rasulullah saw mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata; “ Ya Rasulullah, aku akan pulang kekaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang – orang yang mengikuti ajakanku akan ku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah ku kumpulkan itu. “Ketika Al- Harits telah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang telahdi tetapkan telah tiba, tak seorang utusan pun menemuinya. Al- Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah saw marah kepadanya. Ia pun telah memanggil para hartawan kaumnya dan berkata,” Sesungguhnya Rasulullah sawtelah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah? Mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw.Rasulullah saw, sesuai dengan waktuyang telah ditetapkan, mengutus Al- Walid bin Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada Al- Harits. Ketika Al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ketempat yang dituju. Ia melaporkan (laporan palsu) kepada Rasulullah saw bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkan mengancam akan membunuhnya.Kemudian Rasulullah saw mengirim utusan berikutnya kepada Al-Harits. Ditengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan Al-Harits dan sahabat- sahabat nya yang tengah menuju ketempat Rasulullah saw. Setelah berhadap- hadapan , Al-Harits menanyai utusan itu ; “ Kepada siapa engkau di utus?” Utusan itu menjawab ; “ Kami di utus kepadamu.” Dia bertanya; “ Mengapa? “Mereka menjawab;” Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah. Namun, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.” Al-Harits menjawab ; “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar- benarnya, akutidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.Ketika mereka sampai dihadapan Rasulullah saw, bertanyalah beliau ;” Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku?” Al-Harits menjawab;” Demi Allah yang telah mengutus engkau sebenar- benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (QS. 49 Al-Hujurat:6) sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak hanya menerimaketerangan dari sebelah pihak.Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Tabrani. Firman Allah SWT,”Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah.” Yaitu, bahwa di tengah-tengah kamu itu ada Rasulullah, maka agungkanlah ia, berlakulahsopan di hadapannya, dan ikutilah perintahnya, karena dia lebih tau tentang kemaslahatan kamu dan lebih sayang kepada dirimu daripada kasih sayangmu kepada dirimu sendiri. Dan, pendapatnya mengenai urusan kamu adalah lebih sempurna di banding pendapat kamu mengenai urusanmu sendiri. Sebagaimana yang telah difirmankan-Nya, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”(al-Ahzab:6)Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa pendapat mereka yang berkenaan dengan pemeliharaan kemaslahatan diri mereka itu sangat dangkal. Maka Allah berfirman,”Kalau dia menuruti kamu dalam beberapa urusan,benar-benarlah kamu akan mendapat ke-susahan.” Yaitu, Kalau saja dia menuruti kamu untuk semua hal yang kamu inginkan, pastilah hal itu akan menyebabkan kesusahan bagi diri kamu sendiri. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya.”(al-Mu’minuun: 71)Firman Allah SWT selanjutnya,”Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” Yaitu, memberikan rasa cinta kepada keimanan ke dalam diri-diri kamu dan membuatnya indah di dalam hati-hati kamu. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik r.a. mengatakan,”Rasulullah saw. Bersabda,اَلإِسْلاَمُ عَلاَنِيَّةٌ وَالإِيْمَانُ في القلبِ – قال ثمَّ يُشِيْرُ بِيَدِهِ إِلى صَدْرِهِ ثلاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ يقولالتَّقوَى هَهُنَا التَّقوَى هَهُنَا‘Islam itu bersifat eksplisit sedangkan keimanan itu di dalam hati.’ Kemudian Rasulullah saw. menunjuk dengan tangannya ke dadanya sambil mengatakan, ‘Taqwa itu disini. Taqwa itu disini.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar