Selasa, 20 September 2016

PERTANYAAN TIDAK HARUS SELALU DIJAWAB
 
٭مَنْ رَاَيْتـَهُ مُجِيْباً عنْ كُلِّ ماَ سُـءِـلَ وَمُعَبَِّراً عَنْ كُلِّ مَا شـَهِدَ وَذاكِراً كُلَّ ماَ علمَ فاَسْتَدِلَّ بذَٰ لكَ عن وجُودُ جَهلِهِ ٭
 
 "Barangsiapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, dan menceritakan segala sesuatu yang telah dilihat(mata hatinya), dan menyebut segala apa yang ia ingat [ketahui], maka ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah tanda kebodohan orang itu.''
 
  Menjawab segala pertanyaan yang berhubungan ilmu bathin yang dituangkan oleh Alloh ke dalam hati orang arifin, menunjukkan adanya kebodohan, demikian pula jika menceritakan segala yang dilihat, sebab semua itu berupa rahasia Alloh yang diberikan kepada seorang hamba-Nya, maka jika diterangkan kepada bukan ahlinya, hanya akan menjadikan bahan ejekan dan pendustaan belaka. Karena itu yang menerangkan [menceritakan] termasuk orang yang bodoh.
Alloh berfirman : Wamaa-utii-tum minal-‘ilmi illa qolii laa.(dan tidak aku berikan ilmu kepadamu, kecuali hanya sedikit).
Para ulama’ sufi/Thoriqoh mengatakan: Hati orang merdeka itu kuburan dari Sir (rahasia ketuhanan). Dan Sir itu amanat dari Alloh kepada hamba tersebut, barang siapa menerangkan Sir itu berarti dia khiyanat. Jadi semua yang diketahui tidak boleh diterangkan kecuali dengan isyarat.
Rosululloh bersabda : “Sebagian dari ilmu itu ada yang sifatnya seperti barang simpanan, tidak ada yang tahu kecuali ulama’ billah, dan apabila dia menerangkan (menjelaskan ilmu Sir) orang-orang akan ingkar”.
 Sayyid ali bin Husain bin Ali ra. berkata:  Hai saudaraku, banyak ilmu yang seperti mutiara,berlian, yang seumpama aku terangkan, maka aku akan dituduh sebagai seorang musyrik, dan orang islam menganggap halal darahku, mereka (muslimin) menganggap perkara jelek yang di kerjakan itu sebagai kebaikan, sungguh! Mutiaranya ilmu itu tetap aku simpan supaya orang-orang bodoh tidak tahu, dan menjadikan fitnah.
Abu Hurairoh berkata: Aku hafal ilmu dari Rosululloh dua karung, yang satu karung aku sebarkan kemasyarakat(umat), yang sekarung seumpama aku terangkan, kamu semua pasti akan memenggal leherku.
Dan sebab mengucapkan /menerangkan bagian ilmu Sir, Syeih Husain Al-Hallaj, dibunuh pemerintah pada masanya, sebab Al-Hallaj mengatakan : Maafil-jubbati illa-lloh.(dijubah ini tidak ada lain kecuali Alloh). Itu semua karena mereka melihat Alloh pada semua yang wujud, yakni mereka melihat Alloh-lah yang mewujudkan, mengatur dan menguasai semua yang wujud itu. Keterangan seperti ini adalah puncak dari yang bisa diterangkan. Sedang hakikatnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kecuali hanya bisa dirasakan.
Fahamilah!!!
"BERSANDARLAH PADA ALLOH JANGAN PADA AMAL”
 
٭ مِنْ علاماتِ الا ِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِعِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلل ِ٭
 
1.“Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa.
 
 Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Alloh, meminta kepada Alloh supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Alloh.  sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Alloh, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.
seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Alloh.
Kalimat: Laa ilaha illalloh. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Alloh.
Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala.
Apabila kita dilarang menyekutukan Alloh dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.